Hari ini adalah hari yang penuh antusiasme dan sedikit ketegangan. Sejak pagi, saya sudah siap mendampingi salah satu siswa yang ikut lomba Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Purbalingga. Cabang lomba yang dia ikuti adalah Maca Geguritan Putra, yang diadakan di SMA Muhammadiyah Purbalingga. Ini pertama kalinya siswa saya ikut lomba sebesar ini, jadi saya tak bisa menutupi kegugupan dan harapan yang tinggi.
Pagi yang Bersemangat
Kami berangkat pagi-pagi sekali. Matahari masih malu-malu muncul, tapi semangat kami sudah membara.
Setibanya di SMA Muhammadiyah Purbalingga, suasana sudah sangat ramai. Terlihat peserta dari berbagai sekolah sedang mempersiapkan diri. Ada yang sibuk berlatih, ada yang sedang bersenda gurau untuk meredakan ketegangan. Para peserta masuk ke aula, mengikuti acara pembukaan. Lomba dibuka dengan sambutan dari Kepala Bidang Pendidikan Dasar. Namun karena banyaknya peserta dan juga para guru yang mendampingi, kami terpisah.
Sementara lomba akan segera dimulai. Saya pun mencarinya kesana-kemari, hingga akhirnya ketemu. Ternyata, ia menunggu di depan pintu aula. "Kamu siap, Nak?" tanyaku pada siswa yang duduk di sebelahku. Dengan senyum sedikit tegang, dia mengangguk. “Siap, Pak. Tapi… eh, saya deg-degan juga,” katanya sambil tersenyum canggung.
Udara Purbalingga pagi itu sejuk dan menyegarkan. Di dalam hati, saya berdoa agar semuanya berjalan lancar. Walaupun ini adalah pengalaman pertama bagi siswa saya, saya yakin dia bisa memberikan yang terbaik.
Nomor Undi 6: Siap Beraksi
Dengan nomor undi 6, lumayan cepat untuk maju. “Kamu siap-siap ya, sebentar lagi giliranmu,” kataku sambil menepuk pundaknya.
Beberapa peserta pertama sudah maju. Suara geguritan mereka terdengar mengalun indah, begitu syahdu. Melihat penampilan mereka, saya sedikit khawatir. Tapi, saya tetap berusaha memberikan dukungan penuh kepada siswa saya. “Santai saja. Ingat, yang penting lakukan yang terbaik,” ucapku dengan senyum yang diusahakan setenang mungkin, walau di dalam hati cukup berdebar.
Saat tiba gilirannya, siswa saya maju ke panggung dengan langkah mantap. Dengan suara lantang namun tetap halus, dia membacakan geguritannya: "Jangkrik! Anggitanipun Irul S. Budianto". Berikut teks geguritan yang ia baca.
Gaya pengucapannya cukup menawan, dan saya bisa melihat beberapa juri tersenyum mengangguk. Wah, ini pertanda baik, batinku.
Berkeliling Lomba: Kompetisi yang Ketat
Setelah siswa saya selesai tampil, saya merasa lega. “Sudah, sekarang kamu istirahat dulu,” kataku sambil mengajaknya keluar dari ruangan lomba. Siswa saya terlihat lega. “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, Pak,” katanya sambil tertawa kecil.
Dengan waktu yang masih panjang sebelum pengumuman pemenang, saya memutuskan untuk berkeliling melihat cabang lomba lainnya. FTBI ini ternyata sangat kompetitif, walaupun pesertanya anak-anak SD. Mulai dari Mendongeng, Maca lan Nulis Aksara Jawa, Macapat, hingga Dagelan Ijen (Stand up Comedy), semuanya diisi dengan persaingan yang ketat.
Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah cabang Mendongeng. Pesertanya membawa berbagai macam properti untuk mendukung penampilan mereka, mulai dari boneka, miniatur panggung, hingga kostum yang megah. "Wah, kalau lomba mendongeng ini kayaknya bisa ikut kontes kostum juga ya," pikirku sambil tertawa sendiri.
Namun, yang paling membuat saya kagum adalah cabang Dagelan Ijen. Walaupun ini tergolong cabang lomba baru, kompetisinya luar biasa seru. Peserta-peserta stand-up comedy ini tidak hanya tampil jenaka, tapi juga menyampaikan materi yang segar dan penuh ekspresi. Saya sampai ikut tertawa melihat beberapa penampilan mereka yang lucu. Rasanya seperti sedang menonton acara komedi di TV, bedanya ini peserta masih usia SD. “Wah, stand-up comedian masa depan nih,” candaku dalam hati.
Pengumuman yang Menegangkan
Setelah puas berkeliling, saya kembali ke ruang lomba geguritan. Pengumuman pemenang sebentar lagi akan diumumkan. Saya mencari siswa saya, tapi dia tidak ada di tempat. Waduh, di mana nih anak? Saya pun mulai mencari-cari. Setelah tanya sana-sini, ternyata dia sedang bermain bersama teman-temannya di dekat alun-alun. Ah, dasar anak-anak, batinku sambil tersenyum. Saya langsung menuju alun-alun untuk menemuinya.
Sesampainya di sana, saya malah bingung karena tidak menemukannya. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya saya menemukannya di dekat toilet yang berada di bagian belakang sekolah. “Pak, saya dari toilet. Tadi kebelet, hehe,” katanya dengan polos. Saya hanya bisa tertawa kecil.
Alhamdulillah, kabar baik menunggu kami. Ketika kembali ke lokasi lomba, siswa saya berhasil meraih juara harapan 1! Walaupun baru kelas 4, dia sudah bisa berprestasi di tingkat kabupaten. Saya langsung mengucapkan selamat padanya, dan dia tersenyum lebar. “Terima kasih, Pak. Saya nggak nyangka bisa juara,” katanya dengan penuh kebanggaan.
Refleksi dan Kebanggaan
Hari ini sungguh menyenangkan dan penuh pelajaran. Saya melihat betapa kompetitifnya anak-anak SD di Purbalingga dalam mengikuti lomba FTBI. Semangat, dedikasi, dan kreativitas mereka sangat luar biasa. Saya juga belajar bahwa dalam setiap lomba, yang terpenting bukan hanya hasil akhirnya, tapi juga proses dan pengalaman yang mereka dapatkan.
Melihat siswa saya berhasil meraih juara harapan 1, hati saya bangga. Bukan hanya karena prestasinya, tapi karena dia berani tampil dan memberikan yang terbaik. Di usia yang masih sangat muda, dia sudah menunjukkan potensi besar yang patut dikembangkan.
Dan satu hal lagi yang saya sadari, menjadi seorang guru bukan hanya soal mengajar di kelas. Mendampingi siswa di luar kelas, seperti saat lomba ini, memberikan kesempatan bagi saya untuk melihat sisi lain dari siswa saya—sisi yang mungkin tidak terlihat saat mereka berada di balik meja belajar.
Tips Mendampingi Siswa dalam Lomba
Buat teman-teman guru yang mungkin juga akan mendampingi siswa di lomba-lomba seperti ini, saya punya beberapa tips nih:
Jaga Semangat Anak
Jangan biarkan anak terlalu tegang sebelum tampil. Buat suasana santai dan beri mereka semangat. Kadang-kadang humor kecil juga bisa membantu mereka rileks.Persiapkan Logistik dengan Baik
Pastikan segala sesuatu yang dibutuhkan sudah siap, mulai dari pakaian, alat peraga, hingga makanan ringan. Jangan sampai mereka kelaparan saat menunggu giliran lomba!Berikan Dukungan Penuh
Setelah mereka tampil, pastikan kita tetap ada di samping mereka. Bagaimana pun hasilnya, dukungan dari guru akan membuat mereka merasa dihargai.Ikut Berkeliling
Kalau ada waktu, jangan ragu untuk berkeliling melihat cabang lomba lain. Selain seru, kita bisa belajar banyak hal baru yang bisa diaplikasikan di kegiatan belajar mengajar.
Itulah sedikit cerita saya hari ini, mendampingi siswa mengikuti lomba FTBI di Purbalingga. Hari yang penuh tawa, kebanggaan, dan tentu saja, pelajaran berharga. Saya bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka meraih prestasi. Semoga tahun depan, kami bisa kembali dengan prestasi yang lebih gemilang!


Posting Komentar