Hari ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mengikuti diklat (pendidikan dan pelatihan) selama dua hari yang, awalnya, dijadwalkan untuk tiga hari tapi dipadatkan menjadi dua. Kegiatan ini merupakan kombinasi dari metode hybrid—yaitu synchronous untuk materi yang disampaikan secara online, dan asynchronous untuk tugas-tugas yang harus dikerjakan secara offline. Dari pengalaman ini, banyak hal menarik dan pelajaran baru yang saya dapat, meskipun jadwalnya padat. Mari kita mulai dari hari pertama!
Hari Pertama: Selasa Siang yang Padat dengan Dua Pemateri
Selasa siang itu, saya sudah siap di depan laptop. Kopi di tangan, catatan di sebelah, dan laptop menyala dengan Zoom meeting yang sudah diatur sejak ba'da dhuhur. Pemateri pertama hari ini adalah Bapak Agustinus Indradi, M.Pd., beliau adalah pengawas di koordinator wilayah (koorwil) tempat saya bekerja.
Pak Agustinus memulai sesi dengan menyapa seluruh peserta dengan ramah, walaupun di layar hanya tampak deretan wajah-wajah ngantuk (termasuk saya, hehe). Beliau menjelaskan bahwa materi hari ini berfokus pada penyusunan modul ajar. Bagi seorang guru, modul ajar bukan sekadar kumpulan soal atau aktivitas kelas, melainkan rencana pembelajaran terstruktur yang menjadi panduan dalam mengajar. Yang menarik, Pak Agustinus memberikan penekanan pada pentingnya inovasi dalam menyusun modul. “Modul itu seperti peta,” kata beliau, “Kalau petanya salah, ya kita nyasar. Kalau petanya membosankan, ya yang jalan juga ogah-ogahan.” Semua peserta tersenyum mendengar analogi tersebut.
Beliau juga menekankan pentingnya diferensiasi dalam modul ajar, karena setiap siswa memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda. Jadi, sebagai guru, kita harus pintar-pintar merancang modul yang bisa memenuhi kebutuhan semua siswa di kelas.
***
Setelah materi dari Pak Agustinus, saatnya mendengarkan Ibu Eni Rulita, M.Pd.. Nah, kalau Ibu Eni ini sudah lama saya dengar namanya. Beliau adalah guru penggerak angkatan 6 dan saat ini sudah menjadi kepala sekolah di sebuah SD. Sebelum sesi ini dimulai, saya berpikir bahwa beliau akan menyampaikan materi yang berat, tapi ternyata saya salah.
Dengan gaya bicara yang santai dan sesekali melemparkan candaan, Ibu Eni membahas jadwal pelaksanaan diklat dan teknis-teknis pelaksanaannya. Beliau menjelaskan bagaimana kita akan bekerja secara online dan offline dalam menyusun modul ajar. “Nggak perlu stres dulu, yang penting ngikutin jadwal dan jangan sampai telat submit tugas,” kata beliau sambil tertawa. Mendengar itu, saya sedikit lega, karena sempat khawatir kalau-kalau tugasnya numpuk di akhir sesi.
Selain itu, Ibu Eni juga menjelaskan bagaimana cara mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, terutama saat harus melakukan pembelajaran jarak jauh atau hybrid. "Anak-anak sekarang itu sudah sangat dekat dengan teknologi. Guru harus bisa memanfaatkan itu, tapi jangan sampai guru kalah pintar sama murid, ya," katanya dengan candaan yang membuat suasana lebih rileks.
Hari Kedua: Penyusunan Modul yang Lebih Mendalam
Hari kedua dimulai dengan lebih santai karena saya sudah tahu apa yang akan dihadapi. Lagi-lagi Pak Agustinus menjadi pemateri pertama, tapi kali ini beliau lebih mendalami teknis penyusunan modul ajar. Di hari pertama, beliau lebih banyak bicara tentang teori, tapi sekarang mulai lebih aplikatif.
Tips baru yang saya dapat hari ini adalah cara menyesuaikan modul ajar dengan komunitas belajar atau yang biasa disebut Kombel. Kombel ini adalah kelompok-kelompok kecil yang dibentuk di sekolah atau di komunitas belajar yang lebih besar untuk berdiskusi dan menyusun modul ajar bersama-sama. Ini adalah hal baru bagi saya, karena biasanya saya menyusun modul secara mandiri. Ternyata, bekerja dalam Kombel lebih efektif karena kita bisa berbagi ide dan mendapatkan masukan langsung dari rekan-rekan guru lainnya.
***
Selanjutnya, giliran Bapak Kusmono, S.Pd.SD. Beliau juga kepala sekolah dan kali ini membawakan materi yang tak kalah pentingnya: teknis pengerjaan modul ajar secara offline. Bagi yang mungkin belum tahu, pengerjaan modul ajar ini akan dilanjutkan di pertemuan Komunitas Belajar masing-masing kelas atau Kombel mata pelajaran (Mapel). Di sini, Bapak Kusmono menjelaskan cara memanfaatkan waktu di Kombel dengan baik, terutama dalam berdiskusi dan bertukar pendapat.
Tidak hanya modul ajar, beliau juga menyampaikan sedikit tentang penyusunan modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau sering disebut P5. Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini: Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
"Sama seperti bikin masakan, modul ajar itu ada bumbu rahasianya. Bumbu itu bisa kamu dapat dari diskusi di Kombel," katanya sambil tersenyum. Lagi-lagi, tawa ringan pun terdengar dari para peserta.
Beliau juga menekankan pentingnya asynchronous learning dalam diklat ini. Maksudnya, meskipun materi sudah disampaikan secara online, tetap ada waktu untuk kita mengerjakan tugas secara mandiri. Ini yang saya rasakan cukup fleksibel, karena saya bisa mengatur waktu sendiri untuk menyelesaikan tugas tanpa harus diburu-buru oleh jam belajar tertentu.
Pengalaman dan Hal-hal Baru yang Saya Dapat
Setelah dua hari mengikuti diklat ini, ada beberapa hal baru yang saya pelajari, dan tentunya ini akan sangat bermanfaat dalam mengajar ke depannya. Beberapa poin penting yang saya dapat adalah:
Pentingnya Diferensiasi dalam Modul Ajar: Tidak semua siswa bisa belajar dengan cara yang sama. Kita harus menyusun modul yang bisa diadaptasi oleh siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Kolaborasi dalam Kombel: Bekerja sama dalam komunitas belajar ternyata bisa membantu mempercepat proses penyusunan modul dan memberikan ide-ide yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.
Pemanfaatan Teknologi: Teknologi bisa menjadi alat yang sangat efektif dalam pembelajaran, tapi kita harus pintar memilih dan menggunakan teknologi yang tepat.
Pendekatan Asynchronous dan Synchronous: Menggabungkan pembelajaran daring dan luring ternyata bisa sangat efektif, terutama dalam situasi seperti sekarang di mana pandemi masih membatasi pertemuan tatap muka.
Sebagai catatan, diklat ini bukan tanpa humor. Baik Pak Agustinus maupun Ibu Eni sering kali melemparkan candaan untuk menjaga agar suasana tetap santai. Contohnya, saat Ibu Eni menjelaskan tentang deadline tugas, beliau berkata, "Kalau tugasnya numpuk, jangan cuma dilihat aja, ya. Dikerjain! Nanti malah beranak-pinak."
Sontak tawa peserta terdengar di Zoom, dan saya pun ikut tertawa. Candaan-candaan kecil seperti ini ternyata bisa membuat suasana diklat yang padat materi menjadi lebih ringan.
***
Setelah dua hari mengikuti diklat ini, saya merasa lebih siap untuk menyusun modul ajar yang inovatif dan efektif. Meskipun jadwalnya dipadatkan menjadi dua hari, materi yang disampaikan tetap padat dan penuh dengan ilmu baru. Yang paling penting, saya juga belajar bahwa kolaborasi dan inovasi adalah kunci dalam menciptakan modul ajar yang bermanfaat bagi siswa.
Untuk para guru yang mungkin juga sedang menyusun modul ajar, jangan ragu untuk berdiskusi dengan rekan-rekan di Kombel, karena ide-ide baru bisa muncul dari kolaborasi. Dan jangan lupa, tetap santai dan nikmati proses belajar, meskipun kadang tugasnya terasa berat. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama: menciptakan pembelajaran yang lebih baik untuk anak-anak kita.


Posting Komentar