7 Aplikasi yang Aku Buka setiap hari sebagai Seorang Guru
Aplikasi yang wajib terinstall di HP untuk Guru - versiku.
Sebagai guru, rutinitas itu tidak pernah benar-benar rutin. Ada hari yang terasa lancar seperti jalan tol, ada juga hari yang penuh kejutan seperti plot twist sinetron.
Tapi kalau ada satu hal yang stabil dalam hidup keguruan ini, itu adalah… aplikasi-aplikasi yang selalu kubuka setiap hari.
Entah mau hari tenang, hari sibuk, atau hari yang tiba-tiba diserang agenda dadakan, tujuh aplikasi ini hampir pasti jadi teman setia di HP dan laptopku.
Bukan cuma membuka, tapi benar-benar membantuku bertahan di tengah padatnya aktivitas mengajar.
1. Google Tasks — Si Pengingat Setia
Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, yang aku buka bukan Instagram, bukan WhatsApp, tapi Google Task.
Aplikasi ini jadi semacam “to-do list guru”, berisi hal-hal yang harus dikerjakan hari itu:
- revisi modul ajar,
- upload nilai,
- buat LKPD,
- setor laporan,
- sampai hal-hal remeh seperti “ingatkan anak untuk bawa buku tema”
Yang paling kusukai?
Kesederhanaannya.
Aku hanya perlu bikin daftar, tambahkan tenggat waktu, centang kalau sudah selesai. Sudah. Selesai.
Dan karena sinkron dengan HP & laptop, aku bisa ngecek kapan pun tanpa takut lupa.Dengan Google Task, hidup terasa sedikit lebih tertata.
Dan yang paling penting: menghindarkan aku dari penyakit lupa yang bisa menyerang kapan saja.
2. Notion — Tempatku Menyimpan Jejak Mengajar
Setiap hari, setelah selesai mengajar, aku buka Notion.
Di dalamnya, aku bikin template jurnal mengajar yang sangat sederhana tapi berguna banget. Isinya hanya:
- Identitas pembelajaran
- Tujuan pembelajaran
- Kegiatan pembelajaran
- Asesmen
Itu saja.
Tapi empat poin itu membuatku benar-benar sadar apa yang sudah kulakukan, apa yang kurang, dan apa yang perlu diperbaiki. Kalau suatu hari tiba-tiba lupa mengajar apa kemarin, tinggal buka Notion — semua rapi, lengkap, dan enak dilihat.
Jujur saja: Notion adalah memori keduaku sebagai guru.
3. Email — Tempat Cek “Rezeki Digital”
Email buat sebagian orang mungkin membosankan, tapi buatku…
Email adalah tempat mengecek apakah ada kabar baik hari ini atau tidak 😄
Aku sering buka email untuk:
- cek notifikasi penjualan di Lynk.id,
- cek rilisan SoundOn yang sudah disetujui,
- cek apakah ada tawaran project baru,
- dan sesekali membaca Medium Daily Digest untuk lihat insight tulisan terbaru yang menarik.
Kadang lucu juga—niatnya buka email cuma 10 detik, tapi malah terjebak membaca artikel di Medium tentang healthy habit, productivity habit, education design, automation, atau digital productivity.
Dan dari situlah sering muncul ide-ide baru, entah untuk menulis, mengajar, atau membuat project digital kecil-kecilan.
Email itu seperti loker kecil yang menyimpan “kejutan” setiap hari.
Kadang notifikasi penjualan, kadang job baru, dan kadang—ya kosong. Tapi tetap saja, rasanya wajib dibuka tiap hari.
4. Sosial Media — Bukan untuk Scroll, Tapi untuk Cari Ide
Walaupun tidak setiap jam dibuka, tetap saja sosial media punya peran.
Bukan untuk scroll-scroll lucu (walaupun kadang itu juga terjadi ðŸ¤).
Lebih sering, aku pakai sosmed untuk:- cari ide pembelajaran,
- lihat inspirasi dari guru lain,
- atau sekadar mencari contoh aktivitas kreatif yang bisa diterapkan di kelas.
Seringnya, ide itu muncul justru dari hal-hal yang tidak kusangka. Postingan orang lain bisa jadi “aha moment” untuk pembelajaran di kelas esok hari.
5. Canva — Senjata Tempur untuk Bikin Resource Mengajar
Kalau ada aplikasi yang paling banyak membantuku membuat media pembelajaran, jawabannya jelas: Canva.
Poster, flashcard, LKPD visual, sampai banner acara mendadak — semua lewat Canva.
Bahkan, kadang aku membuat desain pembelajaran sambil senyum-senyum sendiri karena merasa desainnya keren.
Walaupun nanti di kelas siswa tidak terlalu memusingkan dengan desainnya.
Ya sudahlah, yang penting medianya siap.
6. Google Keep — Tempat Ide-Ide Liar yang Masih Mentah
Kalau Notion adalah rumah besar yang rapi, maka Google Keep adalah dapur berantakan tempat aku menaruh ide mentah.
Setiap kali ada ide pembelajaran — entah itu di motor, di dapur, atau saat mau tidur — aku tulis saja di Google Keep:
- ide permainan,
- ide kegiatan mengaji,
- ide model penilaian,
- ide konten pembelajaran.
Setelah itu, baru nanti kupindahkan ke Notion dan dimatangkan pelan-pelan.
Google Keep = catatan spontan.
Notion = versi jadinya.
7. AppSheet — Aplikasi Iqra Tracker untuk Menghindari Drama Buku Hilang
Ini mungkin aplikasi yang tidak semua guru pakai, tapi sangat berarti bagiku.
Aku membuat aplikasi Iqra Tracker di AppSheet.
Fungsinya simpel: mencatat progres baca Iqra siswa tanpa perlu kartu kendali fisik.
Kenapa penting?
Karena aku pernah menghadapi drama:
- kartu Iqra hilang,
- ketlingsut di tas,
- basah kena hujan,
- atau bahkan sobek entah bagaimana.
Dengan AppSheet, semua progres siswa tersimpan aman.
Tidak ada lagi “Pak, kartu saya ketinggalan…”
Semuanya digital, aman, dan bisa dicek dari HP saja.
7 Aplikasi, 1 Guru, Banyak Cerita
Tujuh aplikasi ini mungkin terlihat sederhana, tapi bagiku mereka seperti pasukan kecil yang membantu kelancaran aktivitas mengajar setiap hari.
Mereka membantuku untuk:- tetap teratur
- tetap kreatif
- tetap sadar jadwal
- tetap produktif
- tetap waras di tengah kesibukan
Menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas, tapi juga soal mengelola pikiran, waktu, dan ide.
Dan aplikasi-aplikasi ini membantuku melakukannya dengan lebih mudah.
Kalau kamu juga seorang guru, mungkin kamu punya versi aplikasi favoritmu sendiri.
Tapi buatku, tujuh aplikasi inilah yang menemani setiap hariku — dari pagi sebelum berangkat sekolah, sampai malam sebelum tidur.
.png)
Gabung dalam percakapan