Kukira Mouse Robot M350-ku Rusak, Ternyata Cuma “Mati Suri” Gara-gara Sinyal Bentrok!

Cerita pengalaman pribadi menggunakan mouse Robot M350 yang sempat dikira rusak total. Ternyata bukan masalah hardware, tapi sinyal frekuensinya.

Mouse Robot M-350

Awal Cerita — Mouse Setia dari Lokakarya Sekolah Penggerak

Ada satu benda kecil yang mungkin terlihat sepele, tapi punya peran besar dalam keseharian saya — Mouse Robot M350.
Mouse mungil ini bukan cuma alat bantu kerja, tapi juga saksi bisu perjuangan saya di depan layar laptop selama dua tahun terakhir. Saya dapat mouse ini bukan beli, tapi sebagai souvenir dari Lokakarya Sekolah Penggerak Angkatan 3 Kabupaten Purbalingga. Siapa sangka, hadiah kecil itu justru jadi partner kerja paling setia yang pernah saya punya.

Sejak hari pertama digunakan, mouse ini langsung klop dengan tangan saya. Ukurannya pas, klik-nya empuk, dan responsnya cepat.
Mulai dari membuat LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik), mengolah data pembelajaran, sampai bikin proyek sederhana seperti otomatisasi Google Sheet ke Google Form — semua dikerjakan bareng si Robot M350 ini. Bahkan, kalau diingat-ingat, mouse inilah yang turut “berjasa” menambah sedikit penghasilan dari beberapa proyek kecil berbasis digital.

Kalau mouse ini bisa ngomong, mungkin dia udah minta cuti.
Saking seringnya saya ajak kerja, kadang saya sendiri lupa bahwa dia juga butuh istirahat sampai-sampai baterai nya yang ngasih kode untuk istirahat.

Tapi ya begitulah, kalau sudah terbiasa dengan satu alat yang nyaman, kita kadang lupa kalau benda sekecil mouse pun bisa punya nilai sentimental.
Makanya, ketika mouse ini tiba-tiba mati beberapa waktu lalu, rasanya seperti kehilangan partner kerja yang sudah ngerti gaya saya mengetik dan klik-klik tanpa perlu banyak perintah.

Tanda-Tanda Mouse Mulai “Aneh”

Pagi itu sebenarnya berjalan normal. Saya sempat menggunakan mouse ini di rumah, dan semuanya berfungsi seperti biasa — halus, cepat, responsif. Tak ada firasat buruk.
Namun, begitu sampai di sekolah dan mulai membuka laptop, tiba-tiba mouse-nya... mati gaya. Padahal hari itu adalah hari terakhir pengumpulan draft soal ASAS. Terpaksa pakai touchpad jadinya.

Lampu indikator di bawahnya menyala terang, receiver USB juga terdeteksi dengan baik oleh laptop. Tapi kursor di layar? Diam seribu bahasa. Saya coba klik kanan, klik kiri, geser ke sana kemari — tetap tidak ada reaksi.
Sempat saya pikir mungkin baterainya habis. Tapi setelah diganti dengan baterai baru, hasilnya tetap nihil.

Dalam hati saya bergumam, “Wah, jangan-jangan ini waktunya dia pamit tugas…” sambil senyam-senyum sendiri karena mau punya mouse baru.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir (dan sedikit curhat publik), saya sempat membuat story di WhatsApp dengan caption,

“Terimakasih kawand, doea tahoend soedah menemanikoe. Selamat beristirahat, semoga penggantimoe lebih beroemoer pantjang."

Beberapa teman langsung menyarankan Logi Pro 2 Lightspeed. Duh, masih belum pantas dengan penghasilan😄
Ya, mungkin memang terasa berlebihan untuk sebuah mouse, tapi siapa yang tidak sedih kehilangan alat kerja yang sudah dua tahun jadi andalan?

Setelah mencoba berbagai cara — mulai dari restart laptop, cabut pasang receiver, hingga ganti port USB — hasilnya nihil.
Akhirnya, dengan perasaan campur aduk antara pasrah dan tidak rela, saya memutuskan: “Sudahlah, saatnya move on. Mungkin ini tandanya harus cari pengganti.”

Mouse Baru yang Tak Sehebat Harapan

Saya pun langsung men-checkout sebuah mouse baru dari toko online. Kali ini, bukan yang sembarangan.
Saya cari yang spesifikasinya lebih canggih: punya dua mode koneksi (receiver dan Bluetooth), bisa mengganti DPI, dan punya desain yang katanya “ergonomis dan futuristik”.
Pokoknya, kalau ini manusia, dia kayak artis molek yang multitalenta.

Tapi setelah datang dan saya coba pakai, ekspektasi langsung menukik tajam.
Secara fitur, memang lengkap — tapi entah kenapa, setiap gerakan terasa kurang responsif. Saya sandingkan dengan Robot M350-ku, feel pegang sama tapi feel geraknya beda.

Sempat juga kepikiran, “Ya maklum, masih adaptasi.” Tapi dalam hati saya tahu — ini bukan soal adaptasi, ini soal chemistry.

Karena ternyata, tidak semua yang baru bisa menggantikan yang lama.
Apalagi kalau yang lama sudah terbukti tahan banting, nyaman di genggaman, dan punya sejarah panjang bersama.

Bukan Rusak, Cuma Salah Frekuensi

Beberapa hari setelah mouse baru datang, saya masih tetap belum nyaman dengan “pengganti” si Robot M350. Rasanya nggak sama. Ada sesuatu yang hilang — semacam klik chemistry yang dulu bikin kerjaan lancar tanpa hambatan.

Mouse Wireless tidak berfungsi

Sampai suatu pagi, saya kembali ke sekolah dan duduk di ruang guru. Saat menyalakan laptop, tanpa sengaja saya iseng menyalakan juga mouse Robot M350 yang katanya sudah “almarhum” itu. Dan…
Ajaibnya, kursor langsung bergerak!

Saya sempat bengong. Antara senang dan bingung. “Lho, kok hidup lagi?”
Saya coba klik kanan, klik kiri, semua normal. Gerakannya lincah seperti biasa.
Tapi begitu kepala sekolah datang dan menyalakan laptopnya, tiba-tiba kursor saya mulai goyah lagi — gerak tapi seperti tersenggol sesuatu yang tak kasat mata.

Saat itulah saya mulai curiga: “Jangan-jangan… frekuensinya bentrok!”

Ternyata, benar.
Saya meminta kepala sekolah untuk mencabut receiver mouse dari laptopnya, lalu kunyalakan mouse-ku dan nyala.

Saya langsung senyum-senyum sendiri. “Jadi bukan rusak, cuma... kalah sinyal sama bos!”
Rupanya, ketika kepala sekolah menyalakan mousenya, sinyalnya lebih dulu terhubung, dan receiver saya kebingungan memilih “partner.”
Akhirnya, sejak saat itu saya punya strategi sederhana tapi ampuh:

Saya harus menyalakan laptop dan mouse lebih dulu sebelum kepala sekolah datang.

Lucu juga, ya. Siapa sangka, solusi teknis untuk masalah ini ternyata sesederhana “siapa cepat, dia dapat.” 😄

Spesifikasi Mouse Robot M350 — Si Kecil yang Tangguh

Setelah semua kejadian itu, saya jadi semakin menghargai mouse mungil satu ini. Kalau dipikir-pikir, Mouse Robot M350 memang punya keunggulan yang bikin dia nyaman dipakai sehari-hari.

Berikut spesifikasi yang (katanya) sederhana, tapi justru bikin saya jatuh hati lagi:

  • Koneksi: Wireless 2.4GHz dengan nano receiver
  • Desain: Ergonomis, ramping, dan pas di genggaman tangan
  • Baterai: Menggunakan 1 baterai AA yang tahan lama — bahkan kalau saya pakai tiap hari, bisa sampai berbulan-bulan
  • DPI: Sekitar 1000–1600, cukup presisi untuk kerja administratif maupun desain ringan
  • Jarak jangkauan: Hingga 10 meter (asal jangan bersaing sinyal sama kepala sekolah)
  • Kompatibilitas: Bisa untuk Windows, macOS, dan Linux

Yang paling saya suka adalah klik-nya yang halus dan tidak berisik. Kalau dipakai di ruang guru, saya bisa kerja tenang tanpa bikin teman sebelah curiga sedang ngetik laporan 10 halaman.

Satu lagi, desainnya simpel tapi elegan. Warna hitam-nya masih terlihat keren meski sudah dua tahun. Mungkin bukan yang paling baru, tapi performanya masih mantap.

Pelajaran dari Si “Robot M350” — Nggak Semua yang Diam Itu Rusak

Dari kejadian ini, saya jadi belajar satu hal penting:
Tidak semua yang terlihat rusak benar-benar rusak. Kadang, sesuatu cuma butuh sedikit perhatian (dan jarak dari sinyal orang lain 😆).

Kalau dipikir-pikir, masalah yang saya alami ini sederhana banget — cuma bentrok frekuensi. Tapi bukankah dalam hidup juga sering begitu? Kadang kita merasa stuck, padahal kita cuma “bentrok sinyal” dengan lingkungan.
Kita hanya perlu menenangkan diri, mencari frekuensi yang tepat, lalu konek lagi dengan versi terbaik diri kita.

Robot M350 mungkin hanya mouse, tapi pelajarannya terasa manusiawi sekali.
Kadang saya sendiri senyum-senyum kalau ingat, “Ternyata saya sempat mau ‘membuang’ alat yang masih sehat.” Padahal yang bermasalah bukan dia, tapi kondisi di sekitarnya.

Antara Humor dan Rasa Syukur

Sekarang, setiap kali masuk ke ruang guru, saya sudah punya “ritual pagi” baru:
Nyalakan laptop dulu, colok receiver, lalu nyalakan mouse sebelum kepala sekolah datang.
Biar apa?
Biar sinyalnya nggak rebutan! 😄

Lucunya, setiap kali melihat kepala sekolah datang sambil bawa laptop, saya refleks bergerak cepat. Kalau ada yang lihat pasti tanya, “Ngapain buru-buru, Fer?”
Saya jawab santai, “Ini soal hidup dan mati… antara nyala dan mati suri.”

Kini, si Robot M350 sudah kembali jadi partner kerja setia. Walau pernah dikira tumbang, ternyata dia cuma “mati suri”. Dan saya belajar satu hal penting dari pengalaman ini: kadang, solusi dari masalah besar justru sesederhana menyalakan alat lebih dulu daripada orang lain.

Tapi lebih dari itu, saya juga belajar untuk tidak mudah menganggap sesuatu rusak hanya karena tidak berfungsi sementara.
Kadang, butuh waktu dan sedikit kesabaran untuk menyadari bahwa yang kita anggap “mati” hanya sedang butuh sinyal baru untuk hidup lagi.

Dan kalau dipikir-pikir, hidup juga mirip mouse wireless, ya.
Kita cuma perlu frekuensi yang tepat, baterai yang cukup, dan tentu saja, koneksi yang tidak salah alamat.

Terima kasih, Robot M350, sudah jadi bagian kecil dari perjalanan panjang saya di depan layar.
Siapa sangka, dari sebuah mouse, saya belajar tentang kesetiaan, kesabaran, dan tentu saja... tentang betapa pentingnya “menyalakan diri lebih dulu sebelum kehilangan sinyal.”