Review Mony, Aplikasi Pencatat Keuangan di Android
Mulai kendalikan keuanganmu dengan aplikasi pencatat keuangan yang mudah digunakan. Pelajari cara memulai, konsisten, dan evaluasi keuangan rutin.
Beberapa minggu terakhir, aku seperti masuk ke dunia paralel yang penuh template, database, dan folder-folder tak berujung. Semua ini hanya karena satu hal: ingin mulai mencatat keuangan dengan sistem yang rapi.
Aku mencoba semuanya.
Google Sheet? Sudah.
Notion? Sudah juga, bahkan sampai bikin database bertingkat—yang akhirnya hanya membuatku merasa seperti programmer dadakan.
AI? Sudah. Aku bahkan meminta AI membuat aplikasi pengelola keuangan yang sesuai workflow pribadi.
Tapi apa hasilnya? Burn out.
Capek duluan.
Dan yang paling fatal: aku malah tidak mencatat apa pun.
Rasanya seperti menyiapkan sepatu olahraga mahal dan bagus, tapi tidak jadi-jadi berlari karena sibuk memilih tali sepatu yang cocok.
Padahal, kalau dipikir-pikir, masalahnya ada pada diriku sendiri: terlalu mencari sistem sempurna, sampai lupa memulai hal yang paling penting yaitu mencatat.
***
Template Banyak, Tapi Tidak Semua Cocok
Sebenarnya, template pencatat keuangan itu di luar sana bertebaran seperti rumput liar setelah hujan. Kamu bisa memilih:
- Expense Tracker
- Money Tracker
- Kakeibo, gaya Jepang
- emplate aesthetic di Notion
- Atau Google Sheet dengan warna pastel yang bikin mata adem
Semua terlihat bagus dan menjanjikan. Tapi, setelah dicoba, ternyata... belum tentu sesuai kebutuhan.
Mungkin kategorinya tidak pas.
Atau tampilannya terlalu ramai.
Atau malah terlalu minimalis sampai bingung mau mulai dari mana.
Atau, jujur saja: mungkin masalahnya bukan templatenya, tapi diriku yang belum mulai mencatat.
***
Tiga Hal Penting Dalam Mencatat Keuangan
Setelah capek mencoba sistem yang terlalu banyak, aku akhirnya sadar: mencatat keuangan itu sebenarnya sederhana. Tidak perlu rumit. Tidak perlu aplikasi dengan fitur luar biasa.
Yang penting adalah tiga hal ini:
1. Mulai Mencatat
Ini fondasi utama.
Pakai aplikasi apa pun, sistem apa pun, catatan apa pun—yang penting mulai dulu.
Semakin lama mencari template yang ideal, semakin banyak waktu yang terbuang.
Semakin lama membuat aplikasi custom, semakin banyak esensi yang hilang.
Semakin lama mencoba berbagai opsi, semakin sulit memulai.
Ya, aku sadar betul ini.
Aku sibuk mencari "yang sempurna", padahal "yang sederhana" sudah cukup.
Catatan manual? Bisa.
Tapi aku masih perlu data yang bisa diolah jangka panjang, jadi pencatatan digital tetap pilihan terbaik bagiku.
2. Konsisten
Ini penyakit klasik hampir semua manusia: tidak konsisten.
Ada semangat mencatat di minggu pertama.
Minggu kedua mulai longgar sedikit.
Minggu ketiga lupa.
Bulan depan? “Kok saldo menipis?”
Konsistensi adalah kunci.
Mencatat harus dilakukan segera setelah transaksi terjadi—baik pemasukan maupun pengeluaran. Jangan tunggu nanti. “Nanti” itu licik, dia bisa berubah jadi “lupa.”
Sekecil apa pun transaksinya, catat:
- Jajan Rp5.000
- Beli es teh Rp4.000
- Parkir Rp2.000
Jangan diremehkan. Semua ini bisa bocor halus yang membuat kita bingung saat akhir bulan.
3. Evaluasi Rutin
Nah, ini bagian yang sebenarnya menyenangkan.
Setiap minggu, lihat kembali pengeluaranmu:
- Kamu keluarkan berapa?
- Kategori apa yang paling besar?
- Berapa rata-rata pengeluaran per hari?
- Ada hal yang bisa diperbaiki minggu depan?
Semakin rutin evaluasi, semakin terlihat pola keuanganmu.
Semakin terlihat polanya, semakin mudah menahan diri.
Ujung-ujungnya, kamu jadi lebih hidup teratur. Dan ini efek nyata dari pencatatan keuangan.
***
Kenapa Pengeluaran Harus Dicatat?
Banyak orang lupa bahwa uang itu sifatnya cair. Sangat cair. Bahkan terlalu cair. Kalau tidak dicatat, dia akan hilang tanpa jejak—seperti mantan yang nge-ghosting.
Maka dari itu, pengeluaran perlu dicatat karena:
Maka dari itu, pengeluaran perlu dicatat karena:
1. Pembatas Diri
Saat kamu mencatat, kamu sadar betul uang keluar itu nyata.
Bukan sekadar scan barcode.
Bukan sekadar gesekan kartu.
Ini membantu agar kita tidak kebablasan belanja hal-hal tidak perlu.
2. Membangun Kesadaran Finansial
Kamu jadi tahu apakah pengeluaranmu:
- Tidak wajar
- Berlebihan
- Atau normal-normal saja
Kesadaran kecil seperti ini bisa mengubah cara kita mengatur uang.
3. Ternyata Mencatat Itu Menyenangkan
Awalnya malas.
Tapi begitu kamu melihat grafik bulanan yang rapi, atau laporan harian yang jelas, ada rasa puas tersendiri.
Rasanya seperti main game: kamu ingin level berikutnya lebih baik.
Dan pencatatan keuangan bisa jadi game real life versi dewasa.
***
Tantangan yang Sering Dialami Saat Mencatat Keuangan
Tidak semuanya mulus. Ada beberapa tantangan klasik:
- Malas buka aplikasi
- Transaksi kecil dianggap tidak penting
- Menunda mencatat
- Tidak ada sistem yang benar-benar “klik”
- Overthinking memilih aplikasi terbaik
Aku mengalami semuanya.
Dan mungkin kamu juga.
***
Pilih Aplikasi yang Mudah Dipakai
Fokus pencatatan keuangan itu bukan pada:
- Fitur paling lengkap
- Tampilan paling aesthetic
- Atau sistem paling kompleks
Tapi pada satu hal: apakah kamu akan memakainya setiap hari?
Kalau aplikasi terlalu rumit, kamu tidak akan konsisten.
Kalau aplikasi terlalu penuh fitur, kamu akan kewalahan.
Kalau aplikasi terlalu minimalis, kamu malah bingung sendiri.
Setelah berdamai dengan semua itu, aku memutuskan untuk memilih aplikasi pencatat keuangan ini.
Mony by Jojdev
Aplikasi ini ringan, sederhana, dan cepat. Cocok untuk pengguna yang hanya ingin mencatat tanpa ribet.
👉 Link Play Store:
Setelah perjalanan panjang mencari template ideal, membuat aplikasi sendiri, dan mencoba berbagai platform, aku akhirnya sampai pada kesimpulan:
Tidak ada sistem pencatat keuangan yang sempurna.
Yang ada adalah sistem yang cukup baik untuk dipakai setiap hari.
Mulailah dari yang ada.
Teruskan dengan konsisten.
Lakukan evaluasi rutin.
Perlahan, pencatatan keuangan akan menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan inilah yang akan membawamu pada hidup finansial yang lebih tertata.
Kalau kamu, lebih suka pakai aplikasi yang mana? Coba tulis di kolom komentar ya..
Gabung dalam percakapan