Unexpected Day: Ketika Rencana Mengajar Kalah oleh Agenda Dadakan
Ketika Agenda Dadakan Menyerang
Pernah satu hari, aku sudah menyiapkan learning kit lengkap:
- LKPD yang rapi,
- media pembelajaran interaktif,
- bahkan permainan kecil untuk pemantik awal.
Tapi begitu sampai sekolah, tiba-tiba ada acara dadakan.
Seketika, seluruh rencana yang kutata rapi langsung poof! hilang begitu saja.
Kadang Senang, Kadang Patah Hati
Yang lucu dari unexpected day adalah…
reaksiku selalu tergantung kondisi.
Ada kalanya aku diam-diam bersyukur.
Misalnya ketika malam sebelumnya bergadang karena anak rewel, atau badan rasanya butuh ketemu kasur 5 menit lagi.
Pas datang sekolah tiba-tiba ada kegiatan mendadak yang membuatku tidak perlu masuk kelas…
rasanya seperti dikirimi paket yang aku lupa teryata pernah memesannya.
Tapi kadang, unexpected day benar-benar membuyarkan semangat mengajar yang sedang tinggi-tingginya.
Terutama ketika aku baru saja menemukan metode pembelajaran baru yang ingin dicoba.
Atau ketika aku sudah menyiapkan kelas sedemikian rupa agar siswa aktif, kreatif, dan ceria.
“Kenapa harus hari ini..”
Begitu gumamku sambil memandangi alat peraga tergeletak di mejaku.
Sisi Lain Unexpected Day
Tapi makin ke sini, makin aku sadar:
justru hari-hari tak terduga ini yang memberi warna dalam profesi guru.
Tanpa “kejutan-kejutan kecil” ini, mungkin dunia pendidikan akan terasa flat dan terlalu teratur.
Kadang kegiatan dadakan itu justru menjadi momen:
- guru bertemu orang dengan profesi lain dan belajar hal baru dari mereka,
- siswa mendapat pengalaman baru,
- jeda sebentar di tengah padatnya kegiatan.
Dan di balik kekacauan jadwal, ada ruang untuk fleksibilitas.
Ruang untuk “ya sudahlah, nikmati saja.”
Belajar dari Hari yang Tidak Terduga
Ada tiga pelajaran kecil yang aku ambil dari unexpected day:
1. Tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana
Kadang yang tidak terduga justru mengajarkan hal baru—entah itu kesabaran ataupun adaptasi. Nah ini hal yang kadang jadi patokanku untuk melaksanakan kegiatan, no plan no gain. Haha..
2. Fleksibilitas adalah keterampilan penting bagi guru
Tidak hanya untuk siswa, tapi untuk diri sendiri juga. Kalau kaku, tidak cuma siswa dan guru lain tapi aku juga bakalan tidak nyaman. Jadi harus bisa adaptasi dengan apa yang saat itu sedang dihadapi.
3. Energi yang sudah disiapkan tidak hilang begitu saja
Besok bisa dipakai lagi.
Lusa mungkin lebih tepat waktunya.
Yang penting, niat mengajar itu tetap hidup.
Gabung dalam percakapan